3 Rumus Membangun Energi Pemimpin

SERING kita terjebak dengan asumsi seorang leader atau pemimpin. Pemimpin sering dibayangan sebagai sosok yang berkharisma, berbadan tegap, memiliki banyak saham, rumah dan mobil mewah, bawahan ratusan dan bermacam-macam pengertian yang menandakan pemimpin harus punya ini-itu.
Topik kepemimpinan inilah yang menjadi bahasan menarik dalam acara “Leadership for Sustainable Growth: Too Many Bosses, Too Few Leaders” di Kampus Joseph Wibowo Center, Binus, Senayan-Jakarta, (20/3/2012). Sharing session ini merupakan rangkaian dari “2012 Human Capital Leadership Conference” yang digelar Binus Business School (BBS) bekerja sama dengan The Iclif Leadership & Government Centre (ICLIF), Malaysia.
“Ketika Anda berhenti belajar, maka Anda berhenti memimpin,” ujar Firdaus Alamsyah selaku Head Dean Binus Bussines Center (BBS) saat membuka acara. Firdaus memberi pengantar bahwa secara sederhananya, pemimpin harus mempunyai jiwa kepemimpinan atau yang biasa disebut leadership. Celakanya, pemimpin yang mempunyai puluhan perusahaan sekali pun, bisa saja melupakan unsur kekuatan dari makna leader itu sendiri.
Seminar yang dihadiri kurang lebih 50 orang yang terdiri dari Board Members, CEOs, Chief Learning Officers, Human Resources Directors, Learning & Development Executives itu berjalan hangat. Peserta menyimak materi pertama tentang “Innovative Leadership” yang dibawakan oleh Tubagus Hanafi Soeriaatmadja, Program Director MM Executive BBS.
Menurut Hanafi kepemimpinan dapat dikembangkan sesuai dengan market atau pasar saat ini. “Kita bisa merasakan perubahan gaya kepemimpinan yang tadinya tegas dan kaku, kini lebih informal dan santai. Di mana para CEO sudah terbiasa bergabung dengan pembicaraan santai di social media, menonton Youtube dan mengemas ide dalam bentuk yang lebih colourfull,” jelasnya.
Perkembangan ini, lanjut Hanafi, seharusnya menjadi point untuk para pemimpin yang ingin organisasinya berhasil beradaptasi dengan modernitas media. Guna memberikan strategi marketing yang kadang dilupakan oleh beberapa organisasi saat ini, Hanafi lantas memutar sebuah video berdurasi 3 menit dari Coca-Cola.
Dalam video itu, terlihat para mahasiswa tertegun dan kaget saat mengetahui mesin box minuman tersebut tak henti-hentinya mengeluarkan botol Coca-Cola. Bahkan mereka berteriak riuh, saat mesin mengeluarkan sebuket bunga, hingga seloyang pizza.
Dari video tersebut, Hanafi menjelaskan bahwa Coca-Cola tidak hanya menjual produk, tapi happiness. Keberhasilan sebuah organisasi tidak melulu karena kreativitas karyawan mengembangkan produknya, tetapi juga keberanian leader-nya untuk menerapkan keterbukaan pemikiran kepada para awaknya. “Its not only about design, try to open your heart,” ujar Hanafi.
Sesi kedua tidak kalah menarik. Acara yang menghadirkan pembicara utama, yaitu Rajeev Peshawaria sebagai penulis dari buku “Too Many Bosses, Too Few Leaders” ini tampil sangat atraktif. Fenomena menjamurnya training mengenai leadership ternyata menyita perhatian pembicara dari India ini.
Menurut Rajeev, apa sebenarnya yang membuat leadership training menjadi mahal, adalah lebih karena orang-orang merasa penasaran dan ingin mengetahui mengenai apa sebenarnya formula untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Rajeev menganalogikan, seorang Mahatma Gandhi, yang tidak mempunyai banyak harta, mobil mewah atau sederet gelar, akan tetapi ia sangat berkharisma di mata warga India bahkan dunia.
Lantas apa yang dipunyai Gandhi? Rajeev melemparkan pertanyaan itu ke audiens serta memancing agar peserta mau menjawab secara bergantian. Dari semua jawaban pun disimpulkan Rajeev sebagai, “Leadership is the art of harnessing human energy towards the creation of a better future.
Ia berujar, memang Gandhi tidak memiliki properti mewah, akan tetapi Gandhi mempunyai kekuatan untuk bisa mempengaruhi pengikutnya, yaitu energi. “Energi terbentuk dari value yang biasa kita jalankan. Inilah yang disebut inner energy,” jelas Rajeev.
Bagaimana membangun energi yang baik, Rajeev menyebut ada 3 hal yang perlu dibangun, yakni brains, bones, dan nerves. Ia menegaskan, wawasan, kekuatan tulang dan saraf akan mempengaruhi energi seseorang. “Bagaimana seorang pemimpin mau disegani bawahannya bila selalu menunjukan kelesuan dan wajah lelah, atau tak pernah memaparkan idenya dengan badan tegap dan semangat,” tuturnya.
Rajeev menyampaikan pemimpin yang baik, adalah orang yang mampu menerapkan energi yang dia miliki untuk organisasinya, membangunnya perlahan dan menciptakan culture berenergi. “Tetapi jangan salah, ada yang terlupa. Memimpin organisasi tidak akan berhasil bila belum mampu menjadikan dirinya sendiri sebagai pemimpin. Leading yourself first, and you can build the organizations,” tukasnya. (@nurulmelisa)
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==