Senin, 23 Desember 2013

Rumus Faktorial bilangan asli

Faktorial bilangan asli n adalah perkalian semua bilangan asli yang kurang atau sama dengan n. Faktorial dilambangkan dengan tanda !. Jadi jika n!, maka dibaca "n faktorial".
n! = 1 x 2 x … x (n-2) x( n-1) x n
Untuk faktorial 0, hasilnya adalah 1.
0! = 1
Berikut ini adalah faktorial 0 sampai faktorial 10.

0! = 1
1! = 1
2! = 1 × 2 = 2
3! = 1 × 2 × 3 = 6
4! = 1 × 2 × 3 × 4 = 24
5! = 1 × 2 × 3 × 4 × 5 = 120
6! = 1 × 2 × 3 × 4 × 5 × 6 = 720
7! = 1 × 2 × 3 × 4 × 5 × 6 × 7 = 5040
8! = 1 × 2 × 3 × 4 × 5 × 6 × 7 × 8 = 40320
9! = 1 × 2 × 3 × 4 × 5 × 6 × 7 × 8 × 9 = 362880
10! = 1 × 2 × 3 × 4 × 5 × 6 × 7 × 8 × 9 × 10 = 3628800

Faktorial biasa digunakan untuk menghitung banyaknya susunan yang dapat dibentuk dari sekumpulan benda tanpa memperhatikan urutannya.

Contoh:

Empat buah lukisan A, B, C dan D akan dipajang berurutan pada sebuah dinding pameran. Berapakah jumlah susunan yang dapat dibentuk dari keempat lukisan tersebut?

Jawab:

Karena jumlah lukisan yang akan dibentuk susunannya adalah 4 maka jumlah susunan yang bisa dibentuk adalah 4!.

4! = 1 × 2 × 3 × 4 = 24

Jadi jumlah susunan yang dapat dibentuk adalah 24 susunan. Ke-24 susunan tersebut adalah sebagai berikut.

ABCD, ABDC, ACBD, ACDB, ADBC, ADCB, BACD, BADC, BCAD, BCDA, BDAC, BDCA, CABD, CADB, CBAD, CBDA, CDAB, CDBA, DABC, DACB, DBAC, DBCA, DCAB, DCBA.
»»  SELENGKAPNYA...

Sabtu, 27 April 2013

RUMUS PERBANDINGAN DAN TIPS UNTUK MENGERJAKAN SOAL PERBANDINGAN

Setelah kemarin kita mempelajari tentang soal perbandingan disampaikan juga dengan contoh soal perbandingan, kini akan kami berikan tips untuk mengerjakan soal perbandingan.
Langkah-langkah :
  • buat tabel yang dimana kolom 1 adalah angka perbandingan, dan kolom 2 adalah angka real
  • carilah bilangan pengali yang diperoleh dari
angka real : angka perbandingan
  • kalikan bilangan pengali dengan angka perbandingan sehingga didapat angka real.
angka real = angka perbandingan x bilangan pengali


Contoh Soal


Perbandingan umur Andi dengan umur Ayah adalah 2 : 7. Jika umur Ayah 49 tahun maka :
a. Berapa umur Andi ?
b. Berapa jumlah umur mereka ?
c. Berapa selisih umur mereka ?


a. Jadi umur Andi = 14 tahun
b. Jumlah umur mereka = 63 tahun
c. Selisih umur mereka = 35 tahun

------------
Pak Tono adalah penjual buah. Ia menjual buah mangga, jeruk, dan apel dengan perbandingan 3 : 5 : 9. Jika selisih buah apel dengan jeruk adalah 24 buah, maka
a. Berapa jumlah buah mangga ?
b. Berapa jumlah buah jeruk ?
c. Berapa jumlah buah apel ?
d. Berapa jumlah semua buah yang dijual ?
e. Berapa selisih buah apel dengan mangga ?
f. Berapa selisih buah jeruk dengan mangga ?


Bilangan pengali = 24 : 4 = 6

Jadi :
a. Jumlah buah mangga = 18 buah
b. Jumlah buah jeruk = 30 buah
c. Jumlah buah apel = 54 buah
d. Selisih apel dengan mangga = 36 buah
e. Selisih jeruk dengan mangga = 12 buah
f. Total semua buah = 102 buah

---------
Pak Tani menanam berbagai macam sayuran di ladangnya. Ladang pak Tani luasnya 1.800 m2. Jika lahan tersebut ditanami terong, sawi, kol, tomat dan cabe dengan perbandingan 2 : 4 : 5 : 6 : 7 , maka
a. Berapa m2 lahan yang ditanami terong ?
b. Berapa m2 lahan yang ditanami sawi ?
c. Berapa m2 lahan yang ditanami kol ?
d. Berapa m2 lahan yang ditanami tomat ?
e. Berapa m2 lahan yang ditanami cabe ?
f. Berapa m2 selisih lahan yang ditanami cabe dengan kol ?
g. Berapa m2 selisih lahan yang ditanami tomat dengan terong ?
»»  SELENGKAPNYA...

RUMUS PERBANDINGAN DAN CONTOH SOAL

RUMUS PERBANDINGAN DAN CONTOH SOAL
Dibawah ini kita akam membahas rumus perbandingan yang akan disertai dengan contoh soal perbandingan,
Jarak sebenarnya  = Jarak pada peta x Skala
Contoh :
1.    Diketahui jarak pada peta  2 cm. Berapa jarak sebenarnya bila skala  tersebut 1 : 500
Jawab :
Jarak sebenarnya : jarak pada peta x skala
Jarak sebenarnya : 2 cm x 500
     : 1000 cm
2.    Berapakah Perbandingan dari 35 : 25 : 5
  Jawab : 35     :  25     :  5    Di bagi angka yg
               7        :   5    :  1    terkecil
3.    Berapakah hasil perbandingan 4 : 2 : 1 dari  98 buah kelereng.
  Jawab :   x 98 = 4 x 14 = 56
      x 98 = 2 x 14 = 28
      x 98 = 1 x 14 = 14
4. berapa hasil perbandingan 3 : 6 dari 81
jawab :   x 81 =  3 x 9  = 27
              x 81 =  7 x 9  = 63
5. berapa umur budi dan ani jika perbandingan
    3  : 7 dan selisih umur mereka 12
jawab :   x 12 = 3 x 3 = 9
               x 12 = 7 x 3 = 21
»»  SELENGKAPNYA...

Senin, 08 April 2013

RUMUS-RUMUS PECAHAN

RUMUS-RUMUS PECAHAN
1. Pecahan merupakan bilangan yang menggambarkan bagian dari keseluruhan.
2. Pecahan senilai adalah pecahan-pecahan yang bernilai sama.
3. Pecahan senilai diperoleh dengan cara mengalikan atau membagi pembilang dan penyebutnya dengan bilangan yang sama.
4. Suatu dapat disederhanakan dengan cara membagi pembilang dan penyebut pecahan tersebut dengan faktor persekutuan terbesarnya.
5. Jika penyebut kedua pecahan berbeda, untuk membandingkan pecahan tersebut, nyatakan menjadi pecahan yang senilai, kemudian bandingkan pembilangnya.
6. Pada garis bilangan, pecahan yang lebih besar berada di sebelah kanan, sedangkan pecahan yang lebih kecil berada di sebelah kiri.
7. Di antara dua pecahan yang berbeda selalu dapat ditemukan pecahan yang nilainya di antara dua pecahan tersebut.
8. Untuk mengubah bentuk pecahan ke bentuk persen dapat dilakukan dengan cara mengalikan pecahan tersebut dengan 100%.
9. Untuk menentukan hasil penjumlahan atau pengurangan dua pecahan, samakan penyebut kedua pecahan tersebut, yaitu dengan cara mencari KPK dari penyebut-penyebutnya, kemudian baru dijumlahkan atau dikurangkan pembilangnya.
10. Untuk menentukan hasil perkalian dua pecahan dilakukan dengan cara mengalikan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut.
11. Invers perkalian dari pecahan p/q adalah q/p
12. Suatu bilangan jika dikalikan dengan invers perkaliannya hasilnya sama dengan 1.
13. Penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal dilakukan pada masing-masing nilai tempat dengan cara bersusun. Urutkan angka-angka ratusan, puluhan, satuan, persepuluhan, perseratusan dan seterusnya dalam satu kolom.
14. Hasil kali bilangan desimal dengan bilangan desimal diperoleh dengan cara mengalikan bilangan tersebut seperti mengalikan bilangan bulat. Banyak desimal hasil kali bilangan-bilangan
desimal diperoleh dengan menjumlahkan banyak tempat desimal dari pengali-pengalinya.
»»  SELENGKAPNYA...

Selasa, 19 Maret 2013

JUAL CD ANIMUS SD IPA, IPS, BAHASA INDONESIA, PKN, MATEMATIKA

BELAJAR LEBIH ASYIK DENGAN CD ANIMUS SD, SEDIA:
CD ANIMUS BAHASA INDONESIA KELAS 1, 2, 3 SD/MI
CD ANIMUS BAHASA INDONESIA KELAS 4, 5, 6 SD/MI
CD ANIMUS IPA KELAS 1, 2, 3 SD/MI
CD ANIMUS IPA KELAS 4, 5, 6 SD/MI
CD ANIMUS IPS KELAS 1, 2, 3 SD/MI
CD ANIMUS IPS KELAS 4, 5, 6 SD/MI
CD ANIMUS MATEMATIKA KELAS 1, 2, 3 SD/MI
CD ANIMUS MATEMATIKA KELAS 4, 5, 6 SD/MI
CD ANIMUS PKN KELAS 1, 2, 3 SD/MI
CD ANIMUS PKN KELAS 4, 5, 6 SD/MI
Pembahasan Soal-Soal secara Animasi dan Interaktif + Tes Interaktif, Berisi + 1.000 Latihan Soal Interaktif, dilengkapi sistem skor akhir, SOAL BISA DIEDIT DAN DICETAK
Harga Rp. 55.000 Pemesanan SMS 087812935346
»»  SELENGKAPNYA...

Sabtu, 16 Maret 2013

RUMUS Besaran VEKTOR dan Besaran Skalar.

Besaran VEKTOR dan Besaran Skalar.
Besaran Vektor adalah besaran yang selain memiliki besar atau
nilai, juga memiliki arah, misalnya kecepatan, percepatan, gaya,
momentum, momen gaya, medan listrik, medan magnet. Dll.
Besaran Skalar adalah besaran yang hanya memiliki besar
atau nilai saja. Misalnya panjang, waktu, massa, volum,
kelajuan, energi, daya, suhu, potensial listrik dan sebagainya.
KINEMATIKA DAN DINAMIKA GERAK LURUS
Kelajuan :
v = Kelajuan (m/s)
s = Jarak tempuh (meter)
t = Waktu tempuh (sekon)
Kelajuan rata-rata :
v = kelajuan rata-rata (m/s)
s1 = Jarak tempuh 1, dengan selang waktu t1
s2 = jarak tempuh 2, dengan selang waktu t2
s3 = jarak tempuh 3, dengan selang waktu t3
s
v = ----
t
s1 + s2 + s3 + s4 +……..
v = --------------------------------
t1 + t2 + t3 + t4 +……..
»»  SELENGKAPNYA...

Jumat, 15 Februari 2013

Rumus Somer's

Uji Somer's D adalah salah satu dari uji Asosiatif Non Parametris. Somer's D mengukur hubungan antara 2 variabel berskala ordinal yang dapat dibentuk ke dalam tabel kontingensi. Uji ini mengukur hubungan yang bersifat symmetris artinya variabel A dan variabel B dapat saling mempengaruhi. Rumus Somer's diciptakan oleh Robert H. Somers. Rumus ini merupakan penyempurnaan dari rumus Gamma dengan memperhatikan TIES dan merupakan modifikasi dari rumus Kendall Tau -b.

Kelebihan dari rumus ini dapat menentukan arah hubungan, apakah variabel Y sebagai variabel dependen, X sebagai Variabel dependen atau hubungan keduanya simetris. Sehingga apabila anda menilai hubungan 2 variabel ordinal dengan bentuk tabel kontingensi dan ada variabel yang mempengaruhi serta ada variabel yang dipengaruhi, maka rumus Somer's D sangatlah tepat digunakan.

Berikut rumus Somer's D x-y (Variabel Y Sebagai Dependen):





Keterangan:
Ns: Concordant (P)
Nd: Discordant (Q)
Ty: Pasangan Kolom

Somer's D x-y = Concordant-Discordant/Concordant+Discordant+Pasangan Kolom

Apabila Variabel X Sebagai Dependen atau hubungan simetris, rumus sebagai berikut:
Somer's D y-x = Concordant-Discordant/Concordant+Discordant+Pasangan Baris
ganti Ty dengan Tx


Somer's D sym = Concordant-Discordant/Concordant+Discordant+(Pasangan Kolom+Pasangan Baris/2)
Ganti Ty dengan (Tx+Ty)/2

Contoh: Peringkat Pengetahuan baik, respondennya ada 23 sampel dan peringkat pengetahuan kurang ada 12 sampel. Itulah yang disebut TIES.
Lihat Diagram di bawah ini:

Keterangan:
Pasangan Q adalah pasangan discordant  karena X1 lebih rendah dari X2 tetapi  Y3 lebih tinggi dari Y2, atau bisa juga dinyatakan X2 lebih tinggi dari X1 tetapi Y2 lebih rendah dari Y3.  Pasangan P adalah pasangan concordant karena X2 lebih rendah X3 dan Y2 lebih rendah dari Y3, atau bisa juga dinyatakan X3 lebih tinggi dari X2 dan Y3 lebih tinggi dari Y2.  Jadi bisa dikatakan pasangan concordant menunjukkan perubahan ranking pada variabel X searah dengan perubahan ranking pada Variabel Y, sedangkan pasangan discordant menunjukkan perubahan ranking pada variabel X  tidak searah dengan perubahan ranking pada Variabel Y.  Banyaknya pasangan searah (concordant) dan tidak serarah (discordant) itulah yang menjadi dasar perhitungan statistik Gamma.  
Pasangan Tx dan Ty tidak akan digunakan pada uji Gamma (Pada Tau -b dan Somer's D). 
Berikut Contoh perhitungan Uji Gamma:
Penget
Nilai Tes
T
3
2
1
1
0
2
2
4
2
1
6
8
15
3
4
0
1
5
4
7
0
2
9
T
12
8
13
33
Cara hitung P dan Q:
Pada Gambar tabel-tabel di atas, lihat warna merah dan hijau. Cara menghitung P adalah mengkalikan Cell dimulai dari kanan atas (warna merah) dengan jumlah cell-cell di kiri bawahnya (warna hijau). Cara menghitung Q adalah mengkalikan Cell di mulai dari kiri atas (warna merah) dengan jumlah cell-cell di kanan bawahnya (warna hijau):
Contoh di atas pada jumlah sampel N=33.
P1: 2(6+1+0+4+0+7)=36.
P2: 2(1+4+7)=24
P3: 8(0+4+0+7)=88
P4: 6(4+7)=66
P5: 1(0+7)=7
P6: 0(7)=0
Jadi nilai total P=36+24+88+66+7+0=221
Q1: 0(6+8+0+1+0+2)=0
Q2: 2(8+1+2)=22
Q3: 1(0+1+0+2)=3
Q4: 6(1+2)=18
Q5: 4(0+2)=8
Q6: 0(2)=0
Jadi nilai total Q=51


Cara Hitung Tx dan Ty:



Pada Gambar tabel-tabel di atas, lihat warna merah dan hijau. Cara menghitung Tx adalah mengkalikan Cell dimulai dari paling atas (warna merah) dengan jumlah cell-cell di bawahnya (warna hijau). Cara menghitung Ty adalah mengkalikan Cell di mulai dari paling kiri (warna merah) dengan jumlah cell-cell di kanannya (warna hijau):


Tx1: 0(1+4+7)=0
Tx2: 2(6+0+0)=12
Tx3: 2(8+1+2)=22
Tx4: 1(4+7)=28
Tx5: 8(1+2)=16
Tx6: 6(0+0)=0

Tx7: 4(7)=28
Tx8: 0(0)=0
Tx9: 1(2)=2
Jadi nilai total Tx=0+12+22+28+16+0+28+0+2=99

Ty1: 0(2+2)=0.
Ty2: 1(6+8)=48
Ty3: 4(0+1)=4
Ty4: 7(0+2)=14
Ty5: 2(2)=4
Ty6: 6(8)=48

Ty7: 0(1)=0
Ty8: 0(2)=0
Jadi nilai total Q=84


Somer's D x-y = P-Q/P+Q = (221-51)/(221+51+84) = 0,478.
Somer's D y-x = P-Q/P+Q = (221-51)/(221+51+99) = 0,458.
Somer's D sym = P-Q/P+Q = (221-51)/(221+51+((99+84)/2)) = 0,468.
Nilai Somer's disebut sebagai koefisien korelasi Somer's D,  di mana D berkisar antara -1 (hubungan tidak searah sempurna) dan +1 (hubungan searah sempurna). 
Hasil uji di atas:
Variabel Y Sebagai Dependen: D = 0,478 berarti hubungan kedua variabel sedang.
Variabel X Sebagai Dependen: D = 0,458 berarti hubungan kedua variabel sedang.
Hubungan Simetris: 0,468 berarti hubungan kedua variabel sedang.
Tetapi apakah secara statistik, nilai koefisien korelasi tersebut bermakna atau tidak? maka diperlukan uji selanjutnya, yaitu uji signifikansi. Bagaimana caranya? Pada Uji Somer's D, dengan mendapatkan nilai z score yang akan dibandingkan dengan z tabel.
Z score pada uji Somer's:


Keterangan:
D: Koefisien Somer's D
r: Jumlah baris
c: Jumlah kolom
N: Sampel

Perhitungan pada contoh Z Score Somer's D x-y:

Zx-y = 3,35971
Zy-x = 3,22387
Zsym = 3,29039
Cara pengambilan keputusan:
Apabila -Z Score < -Z Tabel atau +Z Score > +Z Tabel, maka ada hubungan yang siginifikan atau H1 diterima dan H0 Ditolak.
Contoh di atas menunjukkan Z Score 2,29861 pada derajat kepercayaan 95% atau batas kritis 0,05 pada uji 2 sisi (0,025) > Z Tabel +1,96 atau -2,29861 < -1,96, maka berarti ada hubungan yang siginifikan atau H1 diterima dan H0 Ditolak.
»»  SELENGKAPNYA...

Rumus Molekul dan Rumus Struktur Metilon dan Katinon

Akhir-akhir ini dua senyawa kimia me-til-on dan katinon mencuat di Indonesia. Ini terkait dengan tertangkapnya artis terkenal yang diduga mengkonsumsi zat-zat yang sepertinya memang termasuk dalam kelompok “zat terlarang”. Bagaimana rumus molekul dan rumus struktur keduanya?

Berikut ini sekilas informasi tentang dua zat tersebut. Ya zat itu adalah Me-til-on yang mempunyai rumus molekul C11H13NO3 dan Ka-tin-on yang mempunyai rumus molekul C9H11NO. Me-til-on ini merupakan turunan dari katinon. Tapi mengapa semuanya memiliki akhiran -on, apakah mereka semua termasuk dalam golongan alkanon yang memang memiliki gugus fungsi keton? Ok, perhatikan saja rumus kimia dari keduanya.

Me-til-on (Methylone) ini memiliki nama (IUPAC) (±)-2-methylamino-1-(3,4-methylenedioxyphenyl)propan-1-one

Katinon (Cathinone) memiliki nama (IUPAC) (2S)-2-amino-1-phenylpropan-1-one.

Untuk melihat struktur senyawa masing-masing letakan mouse di atas nama senyawa maka secara pop-up akan tertampil struktur senyawanya
»»  SELENGKAPNYA...

Rumus Matematika untuk Bikin Pancake Enak!


http://images.detik.com/content/2013/02/12/297/pancake2.jpgSelama ini, pancake dikenal karena mudah dan praktis dibuat. Meski begitu, seorang ahli matematika di Inggris punya cara yang lebih rumit untuk membuat pancake lezat. Ada satu resep matematika yang harus diikuti untuk mendapatkan pancake super enak dan lembut!

Untuk membuat pancake, biasanya digunakan campuran tepung terigu, susu, mentega, dan telur. Adonan ini kemudian dibentuk bundar di atas wajan anti lengket. Namun menurut seorang peneliti dari University of Wolverhampton, tak semudah itu bikin pancake lezat.

Seperti diberitakan Daily Mail (11/02/2013), ada formula khusus untuk menghasilkan pancake dengan hasil sempurna. Resepnya adalah: 100 - [10L - 7F + C(k - C) + T(m - T)]/(S - E) yang menghasilkan pancake dengan skor 100.

L mewakili jumlah adonan, dan F adalah tingkat kesempurnaan saat membalik adonan. C adalah konsistensi adonan, dan k adalah konsistensi yang ideal. T adalah suhu dari wajannya dan m adalah suhu yang dianjurkan. S merupakan selisih waktu dari adonan dibuat hingga siap dimasak. Sedangkan E adalah jeda waktu antara pancake yang sudah matang akan dimakan.

Hasilnya, semakin dekat dengan angka 100, maka semakin sempurna juga pancake yang dibuat. Resep ini dipublikasikan oleh retailer Debenhams dalam rangka menyambut Shrove Tuesday yang juga disebut Pancake Tuesday dan Pancake Day, yang jatuh hari ini, Selasa (12/02/2013).
»»  SELENGKAPNYA...

Jumat, 08 Februari 2013

Rumus Kursi yang Ergonomis Agar Terhindar dari Nyeri Punggung Bawah

Jakarta, Nyeri punggung bisa dibilang sudah menjadi penyakit khas karyawan kantoran yang seharian duduk di depan komputer. Selain posisi duduk yang salah, faktor tempat duduk juga bisa menjadi pemicunya. Sebenarnya ada rumus untuk menentukan ukuran tempat duduk yang ergonomis

"Untuk mencegah terjadinya nyeri punggung bagian bawah, perlu dibuat kursi yang ergonomis sesuai antropometri tubuh. Bentuk dan ukuran kursi dapat mempengaruhi posisi lengkung tulang belakang," kata Dr dr Ninis Sri Prasetyowati, Sp.KFR dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari FKUI dalam acara Promosi Doktornya di FKUI, Rabu (6/2/2013).

Dalam disertasainya, dr Ninis menjelaskan bahwa nyeri punggung bawah non spesifik banyak terjadi akibat posisi duduk yang tak tepat sehingga terjadi perubahan lengkung tulang belakang. Ujung-ujungnya dapat meningkatkan tegangan otot pada punggung bagian bawah.

Selain itu, berbagai penelitian juga menemukan bahwa wanita lebih rentan terkena nyeri punggung bagian bawah karena struktur panggulnya yang berbeda dengan pria. Duduk untuk waktu yang lama akan meningkatkan beban yang diterima tulang belakang bagian bawah. Beban ini lebih besar daripada yang diterima tubuh saat berdiri.

Dr Ninis telah melakukan penelitian panjang untuk menentukan rumus ukuran kursi yang ergonomis. Hanya saja rumus ini dibuat dengan menggunakan sampel siswi SMU. Walau demikian, dr Ninis mengaku rumus ini dapat diterapkan pada karyawan kantor.

"Saya meneliti pada anak SMA yang tingginya sekitar 150 - 170 cm. Karyawan kantor kan rata-rata tingginya sebesar itu jadi bisa digunakan juga untuk karyawan kantor," terang dr Ninis.

Rumus kursi yang ergonomis mempertimbangkan panjang kaki atau tungkai dan ukuran lebar panggul. Panjang kaki dibagi menjadi 2 bagian, yaitu panjang tungkai bagian atas (PTA) dan panjang tungkai bagian bawah (PTB). Ukuran ini dibagi menjadi 3 kategori.

Ukuran PTA dikatakan kecil jika panjangnya 42 - 45 cm, dikatakan sedang jika panjangnya 46 - 49 cm dan besar jika panjangnya 50 - 53 cm. Ukuran PTB dikatakan kecil jika panjangnya 37 - 39 cm, sedang jika panjangnya 40 - 42 cm dan besar jika panjangnya 43 - 45 cm. Untuk lebar panggul, dikatakan kecil jika lebarnya 26 - 28 cm, dikatakan sedang jika lebarnya 29 - 31 cm dan besar jika lebarnya 32 - 34 cm.

Untuk menentukan ukuran kursi yang akan digunakan, kategorisasi diambil apabila memenuhi minimal 2 ukuran yang sama. Misalnya seorang subjek memiliki ukuran PTA 48,5 cm (sedang), PTB 39,2 cm (kecil) dan lebar panggul 29 cm (sedang), maka ia dimasukkan dalam kategori sedang.

Sedangkan rumus penentuan ukuran kursi sesuai PTA, PTB dan lebar panggul, adalah sebagai berikut:
- Untuk kelompok kecil, maka panjang alas duduknya 41 cm, tinggi alas duduknya 38,5 cm dan lebar alas duduknya 37 cm.
- Untuk kelompok sedang, maka panjang alas duduknya 45 cm, tinggi alas duduknya 41,5 cm dan lebar alas duduknya 40 cm.
- Untuk kelompok besar, maka panjang alas duduknya 49 cm, tinggi alas duduknya 44,5 cm dan lebar alas duduknya 43 cm.

Untuk sandaran punggung, sudut kemiringannya adalah 100 derajat ke arah belakang. Jika dibandingkan, kursi-kursi di bangku sekolah saat ini memiliki sudut kemiringan 90 derajat sehingga punggung berada pada posisi tegak.
»»  SELENGKAPNYA...
 
Suka Soal-soal? Follow @dikutip